Menu

Hasil 'Perkawinan Silang' Umiak Eskimo dengan Kano Bercadik Polynesia

Discussion in 'Diskusi Umum' started by Ario Seno, Jun 3, 2020.

Share This Page

  1. Ario Seno

    Ario Seno New Member

    • Messages: 6
    • Likes Received: 1
    Bila membaca atau mendengar kata 'Perkawinan Silang', tentu yang terlintas dalam pikiran adalah ihwal tumbuhan atau hewan. Sudah bukan hal asing lagi membudidayakan tanaman buah dengan perkawinan silang, atau dalam hal budidaya ikan hias, untuk mendapatkan ikan dengan warna yang diinginkan seringkali pembudidaya melakukan perkawinan silang pada ikan budidayanya. Tetapi bagaimana bila yang dikawinkan silang ternyata adalah...sebuah Perahu?

    2020-06-03 16.58.42.png
    Umiak adalah perahu primitif khas bangsa Eskimo dari Amerika Utara. Dilihat dari bentuknya jelas bahwa Umiak muncul pada saat-saat pertama manusia mengenal perahu. Tidak ada pahat, tidak ada pasak, tidak ada dempul, hanya potongan-potongan kayu yang disatukan dengan ikatan tali lalu diselimuti kulit hewan. Kalau orang berpikir bahwa Umiak ini bersifat 'portable' alias dapat dibongkar pasang...memang benar. Di saat tidak digunakan, Umiak ini bisa dimodifikasi menjadi Kereta Luncur atau Tenda. Kalau orang berpikir Umiak ini hanya untuk pelayaran yang dekat-dekat saja...sejarah mencatat jarak Irlandia-Kanada pernah ditempuh dengan perahu jenis ini.

    DiNovi_B_1_02.jpg
    Sama-sama merajai lautan pada zaman Prasejarah, Kano Bercadik Polynesia memiliki bentuk yang berbeda. Kano ini terdiri dari Lambung Utama dengan Lambung yang lebih kecil sebagai penyeimbang, yang biasa dikenal dengan sebutan Cadik. Keduanya dibuat dari batang kayu yang ditebang lalu diserut dan bagian tengahnya dipahat agar membentuk rongga. Bagian utama dan Cadik dihubungkan dengan dua buah galah panjang yang diikat dengan tali. Penggunaan batang kayu utuh dimungkinkan mengingat tanah Polynesia lebih kaya pepohonan daripada belahan Kutub Utara. Kano Polynesia tidak untuk dibongkar pasang. Sejak dibuat memang hanya difungsikan sebagai sarana transportasi air. Jarak yang ditempuh tidak kalah fantastis: dari Republik Mikronesia dekat kepulauan Maluku hingga Pulau Paskah di lepas pantai Chile.

    Lalu bagaimana bila keduanya di-'kawinsilang'-kan?

    2020-06-03 17.56.25.jpg
    Di zaman modern ini, Umiak dicoba untuk dihidupkan kembali, tetapi jauh sekali dari tempat asalnya, dan sama sekali tidak di belahan kutub, melainkan di wilayah iklim Tropis, di Pulau Jawa. Bukankah Jawa jauh lebih kaya pepohonan daripada kepulauan Polynesia? Itu dulu. Zaman prasejarah hingga zaman kolonial mungkin. Sejak sentralisasi pembangunan, banyak hutan di Jawa telah dibabat jadi pusat industri dan pemukiman. Ditambah lagi pesatnya pertumbuhan kota metropolitan membuat hutan kian tergerus. Kini hutan yang tersisa dijadikan Cagar Alam yang dilindungi negara. Untuk itu teknologi pembuatan perahu à la bangsa Eskimo kembali dihidupkan. Kayu diganti dengan Bambu, tumbuhan serbaguna yang tumbuh amat pesat di seantero pulau. Bambu mudah ditemukan dan dipotong menjadi bilah. Bilah Bambu ini yang kemudian dijadikan kerangka. Lalu kerangka ini tidak diselimuti oleh kulit hewan melainkan oleh Terpal. Kulit hewan, walaupun tidak selangka kayu, berharga tinggi dan dipusatkan untuk bahan baku industri pakaian yang memang mendunia. Terpal mudah ditemukan, biasa digunakan untuk tenda warung makan, dan lebih bersifat kedap air. Dengan kerahgka dari batang Bambu yang diselimuti Terpal, Umiak Modern ini siap mengarungi samudera...kalau saja tidak muncul masalah lain: keseimbangan. Bambu tidak sesolid kayu, sehingga perahu bisa saja oleng saat diletakkan di atas air. Untuk itu perlu ditambahkan sebuah Cadik untuk mempertahankan keseimbangannya. Jadilah hasil perkawinan silang antara Umiak Eskimo dengan Perahu Cadik Polynesia.

    Mengenai proses pembuatan dan hasil uji cobanya, dapat dilihat lebih jelas pada tautan berikut:

     
  2. Staff Member
    minmin

    minmin is a Featured Memberminmin is a Verified Memberminmin Administrator

    • Messages: 331
    • Likes Received: 141
    Apakah aman untuk di laut lepas ?
     
  3. Ario Seno

    Ario Seno New Member

    • Messages: 6
    • Likes Received: 1
    Kalau masih di dalam laut teritorial saya bisa prediksi aman. Yang menjadi pusat massa adalah penghubung antara lambung utama dengan cadiknya, jadi selama penghubungnya kuat perahu akan tetap seimbang. Untuk desain yang ini memang untuk pelayaran dari pulau ke pulau.